..:: Catatan Sang Hina dalam mencari Sang Khalik ::..

Administrator

Foto Saya
Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Assalamualaikum Saya hanyalah, bagian dari kesempurnaan sistem penciptaan alam oleh Allah SWT, saya berusaha untuk tidak lupa bersyukur atas Rahmat dan KaruniaNya. Mari kita berusaha untuk menjaga kedamaian sistem kehidupan di dunia ini agar kelak dikemudian hari, tanggung jawab kitalah yang dipertaruhkan. Waalaikumsalam.

Jumat, September 23, 2011

Pesan Ali bin Abi Thalib ra

"Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra, tempat banyak ciptaan-ciptaanNya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah, Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu, Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nakhoda perjalananmu, dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan (Ali bin Abi Thalib ra)"

sekali lagi kutemukan pesan salah seorang Sahabat Nabi. yang dalam usia belia, beliau sudah memeluk agama Islam, dan menjadi saksi sejarah perkembangan dunia Islam. Dalam tulisanku Doa Ali bin Abi Thalib ra, sekarang kutemukan pesan beliau...

Jika kita menengok sejarah seorang sahabat Nabi, dialah Pintu Gerbang Ilmu, tanyalah berbagai ilmu, maka dialah Pintu Gerbangnya, ungkap Nabi...Ali adalah sosok pemuda yang hidup sederhana, dalam kemiskinannya, dia melamar Fatimah AzZahra, setelah 3 lamaran Sahabat Nabi ditolak oleh Nabi, tak ada yang bisa dia banggakan, melainkan kekuatan Tauhid dalam dirinya, itulah yang membuat Nabi kagum dan Fatimah yang begitu mencintainya...

Ali berpesan "Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra, tempat banyak ciptaan-ciptaanNya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah, Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu, Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nakhoda perjalananmu, dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan (Ali bin Abi Thalib ra)"

kalau boleh Sang Hina ini mengupas kedalaman makna pesan dari Ali bin Abi Thalib ra.

Dunia ini bagaikan samudra, tempat banyak ciptaan-ciptaanNya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah

Dunia diibaratkan samudra, luas tak bertepi, semua kebutuhan ada didalamnya, keinginan, nafsu, hasrat, syahwat, cita-cita, harapan, panas, nikmat surga dunia, tempat berkumpulnya semua ciptaan-ciptaanNya yang tenggelam, lupa akan tugasnya dan akhirnya tenggelam bersama kaum-kaum terdahulu. Jelajahilah dunia ini, seberangi Samudra dunia ini dengan menyebut Asma Allah, ucapkan lirih namun kuat dalam hati...

Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu

kenapa ketakutan pada Allah digambarkan sebagai kapal penyelamat kita dalam menjelajahi samudra dunia ini, karena ketika kita ingat dan takut kepada Allah, tak ada lagi yang mampu menyelamatkan kita dari luasnya dan ganasnya samudra dunia, untuk menyeberanginya, kapal ini yang akan menuntun kita mencari jalan, mengiringi kita, untuk mencapai tujuan akhir kita...

Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu,

layar itu essensi bisa dikembangkan, atau ditutup tak usah bergerak karena angin, hanya bergerak karena kita terbawa arus samudra dunia, Kembangkanlah Keimanan artinya adalah, jadikan keimananmu selalu berkembang kuat, semakin tinggi, dalam, dimanifestasikan dalam fikir, hati, lisan dan tindakan, keimanan inilah yang harus kita bentangkan sebagai layar, wujud kita yakin akan petunjuk Allah...

logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nakhoda perjalananmu

dalam perjalanan mengarungi samudra dunia yang luas dan ganas ini, Ketakutan kita terhadap Allah pun masih bisa diterjemahkan dalam logika dan ilmu, logika sebagai pendayung dan ilmu sebagai nahkoda, bukan kebalikan logika yang mengontrol ilmu, tapi ilmu yang mengontrol logika...
maksudnya adalah ilmu yang menjaga kita, ilmu yang mengarahkan kita, yang dapat memilah apakah ini baik atau buruk, ilmu yang dapat menunjukkan jalan, kemana tujuan akhir kita yang jelas, logika disini diumpamakan pendayung, bukan tidak berarti, gunakan juga logika kita untuk mengarungi dunia yang luas ini, sentuhlah keinginan duniawimu dengan logika,tapi kontrol dengan ilmu, karena dayunglah yang bersentuhan dengan samudra, bukan nahkoda...jadi 2 hal ini adalah keseimbangan dalam mengarungi dunia ini...gunakan logika untuk urusan duniawi, kontrol dengan ilmu yang mengarahkan ke tujuan akhir kita di dunia ini...

dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan

Kesabaran adalah rasa dimana kita tunduk akan keadaan yang pelik, susah untuk kita kendalikan, saat cobaan keras, fatal, menghancurkan dan melukai hati, Sabar adalah rasa dimana kita sedang mengantri dalam antrian busway yang panjang, dan diserobot dengan seenaknya oleh penumpang lain, sabar adalah ketika kita dalam kemacetan panjang, sabar adalah, ketika kita menunggu suara adzan berkumandang saat kita berpuasa,sabar itu laksana wayang kulit yang tak akan bergerak sendiri atas kehendak seorang dalang...sabar adalah, bisa digambarkan sendiri bukan,

sabar menjadi jangkar, keadaan dimana kita harus berdiam diri, untuk introspeksi diri, saat untuk memperbaiki diri, membersihkan diri, pasrah kepada Allah, karena ketidak mampuan kita sebagai makhluk yang tak punya daya dan upaya apa-apa kecuali atas IjinNya

pesan dari Sahabat Nabi ini adlah sebagian kecil dari Rasa Cinta yang paling tinggi, dalam dan luas kepada Sang Khalik yang mungkin saja belum bisa kita raih...rasa Cinta yang mengalahkan penjelasan-penjelasan dari berbagai teori dan literatur yang ada...

Cinta ini yang membawanya dari usia belia untuk memeluk Islam dan berkorban hingga disuatu Subuh, dalam sholat terakhirnya, dia terbunuh Khusnul Khotimah....Aamienn